Novel Sejarah

  Nama saya Aji Firmansyah, bisa dipanggil Aji, Saya lahir di Sumedang, 27 Maret 2005. Sejak lahir saya memiliki landian tersendiri dari sodara sodara saya. Mungkin karena badan saya yang besar tinggi jadi saya mendapat julukan “Si Jangkung Badag” atau “Si bongsor” dan terakhir “Si Demplon”. Saat saya berumur 5 tahun saya sering melihat orang lain sepantaran saya yang sudah memakai seragam sekolah. Disitu saya tertarik untuk bersekolah, disitu saya berpikir bahwa berseragam itu keren, jadi yang menarik saya untuk bersekolah adalah karena keren memakai seragam. 

  Sayapun dimasukan ke sekolah oleh orang tua saya, sebab saya merengek atau marah dan akhirnya saya di masukan langsung ke TKA karena disana banyak teman saya. Selang 1 tahun saya yang harusnya belum memenuhi untuk masuk ke SD (Sekolah Dasar) karena umur saya yang belum pas tapi disitu saya tetap memaksa dan terus meminta agar saya dimasukan ke SD. Masuklah saya di SD saya bertemu lagi dengan teman-teman saya, tetapi ada sebagian yang satu kelas ada juga yang bed akelas. Dari sekolah TK sampe saya masuk SD kelas 1 saya selalu tidak mau di antar sama orang tua, karena saya mau belajar mandiri jadi pada saat itu saya selalu pulang pergi sendiri. Pada saat di SD ada salah satu teman saya yang mengejek saya, dia mengatakan bahwa saya gendut hitam besar. Karena saya tau itu hanya akan membuat saya jatuh atau emosi, saya menganggapnya hanya sebagai lelucon dan motivasi. Tetapi disaat saya membiarkannya justru dia malah makin terus menerus mngejek saya dengan cara berlebihan yaitu, mendorong saya ataupun mengganggu saya saat menulis. Pada sewaktu waktu orang yang selalu mengejek saya diketahui oleh Pak guru, diapun di panggil dan di kasih tau oleh Pak guru bahwa perbuatannya itu salah. Akan tetapi dia malah marah-marah kepada saya, dia bilang semuanya gara-gara saya jadi dia kena marah. Padahal itu perbuatannya sendiri

  Pada keesokan harinya di pagi yang cerah dengan berseragam olahraga yang tetunya saya dan teman-teman yang lainnya sudah siap untuk berolahraga. Kamipun diajak oleh Pak guru untuk berolahraga di lapangan sepak bola yang materinya tentang sepak bola. Pak gurupun membagi 2 tim dari satu kelas, tetapi orang yang selalu mengejek saya tidak mau satu tim sama saya karena dia sangat membenci saya. Disaat permainan dimulai terlihat sekali keseriusan dia saat bermain bola agar dia bisa mengalahkan saya. Pada saat dia membawa bola dia berpas-pasan dengan saya diapun mendorong saya hingga terjatuh, dan itu terlihat oleh Pak guru yang mana itu adalah pelanggaran. Terlihat wajah kesal dari dia saat Pak guru menegurnya bahwa itu tidak baik untuk dilakukan. Setelah beberapa menit, dia hendak merebut bola dari saya dengan berlari sangat kencang, akan tetapi di terjatuh yang membuatnya luka hingga berdarag di tumitnya. Saya yang melihatnya terjatuh sontak kaget dan langsung membuang bola tersebut keluar lapangan. Saya menolongnya dan saya menggendongnya untuk di obati di UKS. Dia yang melihat saya yang menolongnya dengan begitu ikhlas, terlihat dari wajahnya yang sangat malu. Diapun akhirnya tersadar bahwa apa yang dia lakuin kepada saya sangatlah tidak baik jadi dia meminta maaf kepada saya dan dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan saya memaafkannya dengan satu syarat bahwa dia tidak akan melakukan ejekan atau bulian kepada orang lain siapapun itu dan dia menyetujuinya dan kamipun berteman hingga samapai sekarang.

  Semua orang pasti berbeda-beda mau dari segi fisik maupun tingkah laku. Tetapi hargailah sesama karena bisa saja disaat kita di berada di keadaan yang sedang kesusahan justru orang tersebutlah yang akan menolong kita. Dan jangan pernah menilai orang dari luarnya saja, karena itu akan memunculkan fitnah bagi siapa saja yang menilai orang dari luarnya saja. Mungkin buah durian boleh berduri dari luarnya, namun ketika kita mengetahui isinya yang begitu lembut dan manis akan menyukainya. Begitupun kita bisa saja orang tersebut  terlihat jutek atau cemberut padahal kalo kita berani bertanya bisa saja kita langsung berteman dengannya.  

Komentar